Senin, 26 Maret 2012

Kecil namun perih

Hari ini atmosfer jiwaku benar benar tidak menentu. Tapi setidaknya lebih baik dari beberapa hari yang lalu. Tertawa bersama mereka dapat melupakan apa yang tengah aku rasakan. Walaupun hanya sejenak. Tawaku kini juga tak lagi sama. Tawaku terasa hambar, untung bukan pahit.
Hambar akibat rintangan yang harus aku temui. Rintangan yang tidak mungkin bisa kuhindari
.
Duri. Itulah sebuah kata yang mungkin dapat mendeskripsikan rintangan yg aku hadapai. Wujudnya yang kecil namun ketika tertusuk akan terasa sakit, perih, bahkan nyeri. Tusukan kali ini memang berbeda. Karena gerak refleksku tidak bekerja sama sekali. Aku tidak menjerit, mengaduh atau berteriak lalu mengatakan "aww sakiiiit". tidak, aku tidak melakukan respon ini sama sekali. Dengan mencoba untuk tenang aku melepaskan duri itu secara perlahan. Pelan, pelan, pelan, lalu akhirnya duri itu lepas.
sakit, nyeri, perih memang masih aku rasakan. Tapi aku tak ingin sakit, nyeri, perih itu terus bertahta dalam diriku. Aku mencoba mencari kesibukan untuk melupakan rasa tertusuk duri itu. Aku juga mencoba untuk mensugestikan diri kalau itu gak sakit, dan sebentar lagi rasa sakit, nyeri, dan perih bakalan hilang. Alhasil, perlahan rasa itu mulai menghilang namun tidak sepenuhnya. Dan memberikan sebuah bekas. Bekas yang mungkin akan menyebabkan rasa itu lagi, ketika aku tertusuk lagi.
Namun dari rasa itu semua, satu hal yang aku dapatkan dari tusukan itu. Yaitu aku mendapatkan sebuah kekuatan. Kekuatan untuk meminimalisir rasa sakit, nyeri, perih ketika aku mungkin akan tertusuk lagi.

1 komentar:

  1. heemmm. postingannya banyak durinya -_-
    kok kebetulan yak dengan duri ikan yang ga hilang hilang dari tenggorakan aku...

    BalasHapus